Enam Ciri Manusia Indonesia versi Mochtar Lubis


INDOSEJATI.com- Wartawan, sastrawan sekaligus budayawan Indonesia, Mochtar Lubis, pernah mengungkapkan tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang bisa dikatakan sebagai otokritik terhadap bangsa sendiri. Pendapatnya itu ia sampaikan dalam ceramah tentang “Situasi manusia Indonesia kini, dilihat dari segi kebudayaan dan nilai manusia” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 6 April 1977. Berikut ini enam ciri manusia Indonesia versi Mochtar Lubis.

Pertama, hipokrit atau munafik. “Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama,” ungkap Mochtar. Hal itu terjadi karena adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang memaksa mereka untuk menyembunyikan apa yang sesungguhnya dirasakan atau dipikirkan. Sebab, jika mereka berterus terang, mereka takut akan dikenai sanksi atau dianggap membawa bencana.

Mochtar mencontohkan, sikap hipokrit manusia Indonesia tampak jelas misalnya dalam urusan privat. Manusia Indonesia mengecam keras adanya tampilan seronok atau vulgar mengenai tubuh perempuan telanjang di ruang publik. Semua tayangan televisi yang menunjukkan belahan dada atau terbitan yang menampilkan erotisme harus disensor. Semua itu dilakukan “agar rasa susila manusia Indonesia yang sangat peka itu jangan sampai tersinggung,” kata dia.

Ironisnya, terang Mochtar, “Tetapi kita membuat tempat mandi uap dan tempat pijit, kita mengatur tempat-tempat prostitusi, melindunginya, menjamin keamanan sang prostitute dan langganan dengan berbagai sistim resmi, setengah resmi, maupun cara swasta.”

Ciri berikutnya adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. Manusia Indonesia enggan mengakui kesalahan atau kegagalan yang telah diperbuatnya. Mereka lebih suka mengungkapkan jawaban “bukan saya” sembari melimpahkan kesalahan kepada bawahannya, begitu seterusnya. Sebaliknya, para bawahan yang dilimpahi kesalahan itu pun selalu saja mengeluarkan jawaban pembelaan dengan mengatakan “Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan.”

“Sebaliknya, jika ada sesuatu yang sukses, yang berhasil gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya,” ujar pria kelahiran Padang, 7 Maret 1922 itu.

Ciri ketiga adalah jiwa feodalnya. Feodalisme yang kental di kalangan manusia Indonesia melahirkan sebuah tatanan baru, yaitu tatanan asal bapak senang (ABS). ABS ini melahirkan, “Yang berkuasa sangat tidak suka mendengar kritik, dan orang lain amat segan untuk melontarkan kritik terhadap atasan.”

Ciri keempat adalah manusia Indonesia masih percaya tahayul. Menurut Mochtar, sejak zaman dulu sampai sekarang masih saja manusia Indonesia percaya tahayul meski dalam bentuk yang berbeda. Zaman dulu, manusia Indonesia percaya keris bertuah, mengeramatkan pohon, makam, gunung, dan sebagainya.

“Sampai sekarang manusia Indonesia yang modern pun yang telah bersekolah, telah berpendidikan modern, masih terus jug a membuat jimat, mantera, dan lambang. Salah seorang dukun yang paling hebat di Indonesia tak lain mendiang bekas presiden Soekarno,” sebut Mochtar.

Beberapa mantra Soekarno yang hebat itu, jelas Mochtar, seperti: Nekolim, Vivere Pericoloso, Berdikari, Jarek, Usdek, Resopim, dan sebagainya. “Hingga tiba saatnya wahyu cakraningratnya lepas dari dirinya, dan segala mantera dan jimatnya ternyata kosong, hampa, dan tak bertuah sama sekali.”

Pada zaman Soeharto, mantera-mantera baru pun bermunculan, seperti: Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insane pembangunan, dan sebagainya. Sampai kini, pada era Jokowi, kita juga mengenal mantera “Revolusi Mental” dan “Ayo kerja!”.

Ciri kelima, manusia Indonesia itu artistik. Bagi Mochtar, ciri ini menjadi yang paling menarik dan mempersonakan serta merupakan sumber dan dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia.

Terakhir, manusia Indonesia memiliki karakter yang lemah. Ciri ini masih berlangsung sampai sekarang. “Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan dan memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi “survive” bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia,” kata Mochtar.

Namun, selain ciri-ciri di atas, Mochtar menyampaikan juga beberapa kelebihan manusia Indonesia yang bisa dijadikan sebagai modal utama bagi keselamatan bangsa, antara lain: kasih bapak kepada anak-anakanya, demikian pula sebaliknya; manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut dan suka damai; mereka juga punya selera humor yang cukup baik; manusia Indonesia cepat belajar, otaknya cukup encer. Sifat-sifat itu, menurut Mochtar, bisa menjadi modal manusia Indonesia untuk berkembang.

Sumber: Lubis, Mochtar. 1977. Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawab). Jakarta: Idayu Press.


Postingan terkait: