Kiblat Ganda Alutsista Indonesia, Barat atau Timur?


INDOSEJATI- Alat Utama Sistem Senjata atau biasa disebut Alutsista, merupakan alat-alat yang digunakan untuk mempertahankan, menjaga dan melindungi kedaulatan bangsa dan negara. Seperti kita ketahui Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki berbagai macam Alutsista yang diperoleh dari produksi Industri Strategis Pertahanan Dalam Negeri dan pembelian luar negri atau bahkan hibah dari beberapa negara.

Namun satu hal yang kini menjadi masalah adalah tentang kemana kita mempercayakan pembuatan Produk Alutsista Strategis yang belum bisa kita buat.

Produksi Alutsista Strategis seperti pesawat tempur, rudal, kapal perang dengan persenjataan canggih, radar pantau ruang udara, sudah pasti membutuhkan suatu sistem untuk saling terhubung. Hal ini menjadi jelas dan mutlak diperlukan oleh TNI sebab di masa yang akan datang perang sudah tidak semudah yang kita pikirkan, hanya tembak dan kerahkan pasukan.

Melainkan perang di masa depan adalah perang yang terintegrasi, dimana sistem senjata harus terhubung satu sama yang lain untuk menciptakan kekuatan yang solid, terpadu, mudah dan cepat digerakan dan dikoordinir, serta menjamin keselamatan pasukan TNI dan mencegah terjadinya''Blue On Blue'' yakni sebuah istilah untuk menyebut peristiwa saling tembak sesama kawan di medan tempur.

Indonesia dikenal dengan keunikan sistem pertahanannya, dimana terdapat beragam produk alutsista yang diproduksi oleh negara yang ''bermusuhan'' tetapi malah berkumpul dan menjadi satu kekuatan pelindung negara ini.

Keunikan ini selain menjadi ke-khas-an tersendiri, namun pada akhirnya juga menjadi sumber masalah. Kebanyakan alutsista strategis yang kita miliki sering tidak dapat terintegrasi' di lapangan. Contoh sederhana adalah skuadron pesawat tempur Sukhoi TNI AU yang sering kali berdiri sendiri dalam setiap misi. Artinya pesawat Sukhoi tidak dapat melakukan pertukaran informasi dan data situasi medan tempur dengan pesawat tempur lain yang dimiliki TNI AU.

Ini terjadi sebab Sukhoi dan F-16 dibuat oleh dua negara yang berbeda dalam standar komunikasi pertempuran. Di samping itu, faktor bahwa Rusia dan Amerika adalah  negara yang bermusuhan.
Ironisnya adalah baik Shukoi maupun F-16 adalah pesawat yang dibuat untuk  ''saling menghancurkan satu sama lain''.

Selain contoh tersebut,patut kita cermati juga bahwa senjata penangkis serangan udara (PSU) milik Arhanud terbaru,yakni Oerlikon Skyshield, sudah memasukan Shukoi sebagai ''ancaman'' dalam sistem manajemen tempurnya. Tentu hal ini sering membuat pusing operator sistem senjata tersebut karena jika Shukoi milik TNI AU lewat maka radar Oerlikon Skyshield akan mendeteksi mereka sebagai ''penyusup'' dan akhirnya terpaksa sistem tersebut dimatikan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


Tak hanya itu, bahkan radar yang ada dan dimiliki radar satuan (Satrad) TNI sering kali juga mengeluarkan ''peringatan'' otomatis saat melihat dan mendeteksi Shukoi TNI AU yang sedang lewat. Hal ini dapat membahayakan skuadron Shukoi sendiri karena bisa saja mereka ditembaki sendiri oleh kawan dalam pertempuran sesungguhnya.

Jika melihat jumlah, jenis dan macam alutsista yang saat ini ada dalam tubuh TNI maka dapat disimpulkan 4 opsi terkait masalah kegagalan integrasi sistem ini, diantaranya;

1. Hapuskan penggunaan semua Alutsista Strategis produk buatan barat, kemudian ganti keseluruhan standar Alutsista strategis dengan produk buatan blok timur.

2. Hapuskan semua penggunaan Alutsista Strategis produk buatan blok timur, kemudian ganti keseluruhan standar alutsista stretegis dengan produk buatan blok barat.

3. Melaksanakan modifikasi sehingga sistem yang berbeda dari dua blok tersebut bisa diintegrasikan. Seperti India dengan asistensi Israel sebagai negara yang membantu integrasi alutsistanya.

4. Tetap ber''gado-gado'' dalam urusan alutsista sembari menanti industri pertahanan strategis dalam negeri sampai pada tahap menguasai dan sanggup memproduksi alutsista strategis tersebut.

Apapun pilihan Pemerintah, sudah seyogyanya kita mencermati masalah ini dengan bijak, Jangan sampai akhirnya keputusan yang kita buat malah mencelakakan diri sendiri. Dan harapan warga negara  adalah kemandirian dalam membuat alutsista sendiri dan mampu bersaing di kancah global untuk kemajuan dan kemandirian bangsa dan keamanan khususnya..!!


Sumber:GarudaMiliter

Postingan terkait: