Kicauan 'MENGEJUTKAN' Freddy Budiman Sebelum Eksekusi Mati Soal Keterlibatan Aparat di Bisnis Narkoba


INDOSEJATI- Kejaksaan Agung memastikan terpidana kasus kepemilikan 1,4 juta ekstasi, Freddy Budiman telah dieksekusi mati pada Jumat (29/7) sekitar pukul 00.45 WIB. Freddy dieksekusi bersama tiga terpidana mati lainnya,yaitu Michael Titus Igweh (Nigeria), Humprey Ejike (Nigeria), dan Gajetan Acena Seck Osmane (Senegal).

Namun dibalik eksekusi mati yang merenggut nyawa Freddy Budiman, tersebar kabar tak sedap yang dilakukan oleh aparat penegak hukum di Indonesia. Kepada Koordinator Kontras Haris Azhar, Freddy Budiman membeberkan ulah “busuk” aparat yang saat itu menangani kasus narkoba yang menjeratnya hingga berujung eksekusi mati baginya.

Menurut Haris Azhar, curhatan Freddy Budiman yang disampaikan kepadanya selama dua jam itu terjadi pada bulan April 2015 (saat akan dilaksanakannya eksekusi mati Jilid II).

Haris menceritakan pertemuan dengan Freddy dimulai saat dirinya diantar seorang pelayan rohani di sebuah ruangan. Obrolan dengan itu juga diawasi dengan Kalapas Nusakambangan Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei.

“Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan,” ujar Haris.

Menurut Haris, pembicaraan dimulai dengan pengakuan Freddy Budiman yang siap dihukum mati akibat menjalankan bisnis narkobanya.

“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, risiko kejahatan yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya,” kata Haris mengingat ucapan Freddy saat itu.

Haris mengatakan, pembicaraan selanjutnya mengenai Freddy yang mengaku memiliki bos besar berasal dari China.

“Saya bukan bandar, saya adalah operator penyelundupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (bos saya) ada di China. Kalau saya ingin menyelundupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga). Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya Rp 200-300 ribu itu?” kata Freddy kepada Haris.

Haris terkejut dengan pengakuan Freddy itu. Lantas dia menjawab kalau ekstasi yang diedarkannya di Indonesia senilai Rp 50 ribu. Namun menurut Haris, mendengar jawabannya itu Freddy langsung menjawab salah.

“Salah. Harganya hanya Rp 5.000 perak keluar dari pabrik di China. Makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si pihak tertentu, ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip Rp 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak. Selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?” jelas Freddy.

Menurut Haris, Freddy menjawab sendiri karena dirinya mengaku meski banyak yang menitip harga dirinya masih bisa mendapat keuntungan hingga Rp 200 ribu. Sehingga menurut Freddy, dia tidak merasa dirugikan atas permintaan pihak tersebut.

“Karena saya bisa dapat per butir Rp 200 ribu. Jadi kalau hanya membagi rejeki Rp 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu,” kata Freddy kepada Haris mengakhiri perbincangan.


Kicauan Freddy Sudah Sampai Ke Telinga Kapolri

Adanya informasi ini pun akhirnya sampai juga ke telinga Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. “Ya saya sudah baca soal informasi yang beredar itu, ramai sekali,” kata Tito, Jumat (29/7) di Mabes Polri.

Jenderal bintang empat ini menuturkan ?cerita yang disebarkan oleh Haris itu adalah informasi dan bukan bukti. Sehingga menurut Tito hingga kini belum bisa disimpulkan apakah cerita itu memang benar terjadi atau hanya alasan Freddy untuk menunda eksekusi.

“?Yang beredar di viral itu informasi tidak jelas, ada disebut Polisi ada BNN. Ini formasi, kalau bukti itu harus jelas ada namanya siapa. Jadi yang di viral itu informasi bukan kesaksian. Kalau kesaksian itu ada yang melihat, mendengar dan mengetahui. Kalau ini kan dia hanya menerima informasi,” ujarnya.

Seperti ramai diberitakan sebelumnya, Koordinator KontraS, Haris Azhar dalam pesan singkatnya menceritakan bagaimana tereksekusi mati, Freddy Budiman pernah mengungkapkan dirinya memberi sejumlah uang kepada BNN sebagai ‘Uang Setor’ bisnis narkobanya.

“Dalam hitungan saya selama beberapa tahun kerja menyelundupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri,” ujar Fredi kepada Harris sebelum dieksekusi.

“Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang dua, di mana si jenderal duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun,” cerita Haris soal pernyataan Freddy, Jakarta, Jumat (29/7).

Harris melanjutkan bahwa BNN juga pernah diberitahu mengenai keberadaan pabrik narkoba yang berada di Cina oleh Freddy, namun petugas BNN tidak dapat melakukan apapun dan akhirnya kembali ke Indonesia.

Dari keuntungan penjualan, Freddy mengatakan dapat membagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu, termasuk Mabes Polri untuk mengamankan bisnis narkobanya.

Haris mengakui ada yang tidak benar saat mengunjungi Freddy Budiman di Lapas Nusakambangan pada 2014 lalu karena tidak ada satupun Closed Circuit Television (CCTV) di dalam penjara Freddy.

“Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat?” katanya.

Hingga pada akhirnya Freddy mengungkapkan bahwa dirinya hanya sebagai pihak yang selalu diperas oleh penegak hukum meski tetap ‘diamankan’ dalam melakukan bisnis narkoba.


Sumber : Merdeka.com

Postingan terkait: