Untuk Ganti Hercules, Pilih Pesawat AN-70 atau A-400M ?




INDOSEJATI- Perwakilan Dagang Ukraina Natalia Mykolskiy mengatakan 04/08/2016 mengatakan Indonesia berencana untuk memperbarui armada pesawat angkut militer dengan pesawat Ukraina An-70. Untuk memperkuat kerjasama itu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, pekan ini juga telah melakukan perjalanan ke Indonesia.

“Angkatan Udara Indonesia berencana untuk meng-upgrade armada pesawat angkut militer Hercules C-130 menjadi An-70 Ukraina, Topik pembicaraan lebih dari cukup dan saya yakin akan ada kejutan,” ujar Natalia Mykolskiy.

TNI AU telah merencanakan penggantian pesawat Hercules masuk program modernisasi alutsista “Minimum Essential Force” dalam renstra 2015-2019.

Sehari setelah kunjungan delegasi Ukraina, Satu tim dari Airbus Defence and Space, unit dari Grup Airbus, datang ke Indonesia untuk menawarkan produk-produknya, termasuk A400M airlifter dan jet tempur Eurofighter Typhoon.

Kepala divisi pesawat militer Airbus Defence and Space, Fernando Alonso, menemui sejumlah pejabat tinggi di kabinet dan juga melakukan kunjungan ke PT Dirgantara Indonesia (DI) di Bandung, Jawa Barat. PT DI memiliki sejarah panjang kerja sama dengan CASA Spanyol, yang telah diakusisi oleh Grup Airbus pada tahun 2000.

Alonso mengatakan Airbus dalam proses pengiriman pesawat transportasi militer C295 twin-turboprop ke Indonesia, yang sebagian dibangun di Bandung.

Airbus juga melihat ada peluang meningkatkan penjualan produk lainnya di Indonesia, karena besarnya anggaran untuk memodernisasi peralatan militer Indonesia untuk mencapai Minimum Essensial Force pada tahun 2024.



Pesawat A400M dianggap sebagai airlifter paling canggih, dan akan menjadi pesawat transportasi jarak pendek yang paling ideal untuk Indonesia. Setelah memulai debutnya pada tahun 2003, beberapa negara Eropa telah menggunakan pesawat itu. Di Asia, Malaysia telah menerima pengiriman tiga unit pesawat A400M. Namun Jerman sempat mengembalikan pengiriman sejumlah pesawat A400M karena mengalami masalah di airframe. Perbaikan pada airframe A-400 membuat pengiriman pesawat ini ke Jerman terlambat dan tidak sesuai jadwal. Jerman pun mulai mencari pesawat pengganti, untuk menutupi kebutuhan operasional militer mereka, tanpa membatalkan kontrak dengan Airbus A-400.

Jika pada awalnya Indonesia cenderung untuk membeli A-400, namun setelah munculnya sejumlah kendala pada pesawat, peluang Antonov A-70 untuk mengisi armada angkut TNI AU, semakin terbuka lebar.


Sumber:http://jakartagreater.com/mana-terpilih-pesawat-70-atau-400m/

Postingan terkait: