Ketika Sandiwara Perang Indonesia dan Jepang Kelabui Inggris-Belanda


INDOSEJATI.com - Kala itu, Jepang masih enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Namun, sikap ini akhirnya berubah setelah Jepang mengetahui perjanjian kesepakatan sekutu dan Indonesia. Kesepakatan itu berbunyi bahwa Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dilibatkan dalam proses pemulangan para tentara yang kalah kembali ke negaranya.

Pada 3 Desember 1945, Mayor Oetarjo menerima laporan dari Kolonel Yoshimoto saat berada di Markas Penghubung TKR Jakarta. Kolonel Yoshimoto melaporkan bahwa pimpinan balatentara Jepang di Indonesia telah menerima perintah dari sekutu agar komandan pasukan Jepang mentaati perintah komandan TKR setempat.

Kemudian, persiapan pemulangan tentara tersebut dipercayakan kepada Wakil Kepala Staf, Letkol Shizuo Miyamoto, yang merupakan seorang perwira senior Jepang. Laporan Kolonel Yoshimoto itu sekaligus menandakan bahwa sekutu sudah memenuhi salah satu perjanjiannya. Ini merupakan kemenangan diplomatis yang kedua bagi RI.

Hingga pada suatu malam selepas Isya, rumah Letkol Eddie di Jalan Baros dikunjungi Butaicho, seorang Perwira Militer Jepang mantan komandan pendudukan Jepang di Sukabumi, bersama ajudannya. Kepada Eddie, Butaicho mengungkapkan simpatinya terhadap perjuangan Indonesia dan berniat menyerahkan senjata dari pasukannya secara sukarela.

Namun, niat ini urung ia lakukan karena bertentangan dengan perintah sekutu. Keduanya, kemudian menyepakati sebuah skenario untuk mengelabui sekutu melalui sandiwara perang, seperti dilansir dari Instagram Matapadi.

Pada malam yamg disepakati, kedua pasukan mencapai titik yang disepakati. Tentara Jepang secara khusus telah membawa seluruh persenjataan mereka. Di tempat itu, sandiwara perang berlangsung singkat lewat tembakan-tembakan yang dilontarkan ke udara. Sayangnya, seorang tentara Jepang harus dikorbankan dalam sandiwara ini. Ia tewas ditembak oleh rekannya sendiri.

Pasukan Jepang kemudian mengibarkan bendera putih dan menyerahkan seluruh senjata mereka kepada TKR. Peristiwa ini dilaporkan ke markas sekutu. Mereka tidak bisa berbuat banyak mengetahui bahwa persenjataan yang seharusnya diserahkan kepada sekutu, kini berada di tangan TKR.

Beberapa puluh pucuk senjata ini merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi TKR sebagai organisasi militer yang masih muda dan serba kekurangan. Dari pemerintahan militer Jepang, selain menerima penyerahan senjata, Resimen TKR Sukabumi juga mendapatkan kendaraan-kendaraan Jip dan truk.


Sumber: SejarahIndonesia

Postingan terkait: