Setelah Latihan Gabungan, Masihkah Malaysia Berani Lancang Pada Indonesia ?


INDOSEJATI.com - Setelah hampir satu dasawarsa kekuatan TNI menjadi bahan ledekan oleh Tentara Diraja Malaysia, apakah sekarang mereka masih berani 'ngenyek' ?

Latgab  telah memamerkan kemampuan serbu TNI walau tanpa beberapa alutsista yabg datang belakangan.  Sedangkan defile HUT TNI memamerkan senjata utama terbaru hasil kebijakan MEF 1 yang absen di Latgab.

Senjata alutsista terbaru TNI dipamerkan mulai dari tank Scorpion sampai drone Wulung buatan anak bangsa turut tampil. Kapal tempur utama milik TNI AL juga tidak sekedar konvoi tapi juga ikut bermanuver gaya tempur.



Alutsista Malaysia Sudah Usang
Dunia berputar,  kadang diatas kadang dibawah. Sama halnya dengan Militer Malaysia. Saat ini kondisi alutsista Malaysia bolehlah divonis 'ngenes'.

Perbandingan kekuatan aviasi Angkatan Darat misalnya,  sangat njomplang:  Penerbad TNI punya 5 mi35, 8 heli Apache Guardian plus 12 Eurocopter Fennec dan rencana heli angkut blackhawk yg sudah hampir pasti disetujui kongres AS.

Lha sebaliknya, proposal pembelian Apache Malaysia ditolak kongres AS. Praktis tim penerbang Angkatan Darat Malaysia sampai saat ini cuma mengandalkan 1 ekor Agusta-westland yang minim senjata.

Angkatan Udara Malaysia juga sudah mulai kekurangan armada. 12 ekor Mig29 sudah usang, seperti halnya produk militer Russia, susah diupgrade. F18 Hornet mereka cuma berjumlah 8 sedangkan Sukhoi su30 ada 18 biji. Total cuma ada 26 jet tempur aktif milik Malaysia. Northop F5 anggap saja sudah dipensiunkan seperti TNI.

Sedangkan TNI AU memiliki 34 biji F-16 (24nya block 52), 11 ekor sukhoi su30 dan 5 su27. Total ada 50 jet fighter. Jika akhirnya deal, 18 ekor Jas Gripen NG sudah bisa parkir tanpa terdeteksi keberadaanya.



Jika hasil MEF 1 (Minimum Essential Force/Daya Deteren Minimal) sudah sedemikian dahsyat, bagaimana bila MEF 2 selesai tahun 2022? TNI akan kembali jadi salah satu macan di Asia.

Tapi entah kenapa, kondisi ekonomi dunia dan domestik yang kurang baik saat ini, membuat masih ragu dengan komitmen Pemerintah untuk meneruskan program MEF ini. Karena secara eksplisit Jokowi sudah menyatakan akan melanjutkan MEF dengan syarat pertumbuhan ekonomi di atas angka 7. Syarat pertumbuhan ekonomi 7% itulah yang berat.


Sumber: Angkasa

Postingan terkait: