Prajurit Muda Indonesia Hancurkan Pesawat Bomber B-25


INDOSEJATICOM - Tak hanya berhasil mengusir tentara Belanda dan Inggris serta membuat tentara Jepang tak berkutik, pemuda Indonesia yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) ternyata pernah menembak jatuh pesawat pemburu B-25 di Lapangan Udara Simpang Tiga, kini Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) di Riau.

Pertempuran tersebut merupakan satu dari berbagai peperangan yang terjadi di Riau oleh pemuda dengan mengangkat senjata selama Perang Kemerdekaan 1945-1949. Namun, sayangnya itu semua jarang diketahui generasi muda di Indonesia.

Ditembak jatuhnya pesawat pengebom Belanda B-25 Mitchell itu terjadi pada 2 Juli 1946, di Lapangan Terbang Simpang Tiga oleh BKR. Pada hari itu, Danmen Letkol Hasan Basri mendapat laporan dari staf di atas lapangan terbang Simpang Tiga ada pesawat milik Belanda yang berputar-putar di atas landasan.

Begitu mendapat laporan dari staf, Letkol Hasan segera memerintahkan anak buahnya agar menunggu perintah dan bersembunyi di kubu-kubu peninggalan Jepang dan Belanda.

"Namun begitu, bila ada tembakan dari musuh kita harus balas. Waktu itu yang menjadi Komandan Bataliyon I Resimen IV adalah Mayor DI Pandjaitan, gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Sedangkan Komandan Kompi Lettu Abdul Muis dan Komandan Seksi Letda Arfiatmin," ujar Kolonel Purn Himron Saheman, saksi hidup peristiwa tersebut.

Pesawat musuh ternyata terus merendah dan memuntahkan pelurunya ke landasan dan daerah sekitar landasan. Tindakan ini ditanggapi dengan serangan balik dilakukan anak buah Sersan Abdul Manaf.
Walau diberondong balasan peluru prajurit BKR, pesawat B-25 tersebut tetap berusaha mendarat di landasan Bandara Simpang Tiga. Pesawat tersebut kemudian meluncur tanpa keseimbangan dan ketika akan naik kembali pesawat tersebut gagal.

Dengan gagah berani anak buah Letnan Arfiatmin terus menembaki pesawat tersebut dengan teriakan semangat kemerdekaan menyala-nyala.

"Pesawat Belanda itu akhirnya menabrak onggokan beton bekas kubu-kubu pertahanan milik Belanda dan Jepang sudah tertutup semak-belukar. Pesawat naas tersebut patah jadi dua di bagian tengahnya. Setelah diperiksa ada 11 serdadu Belanda mati dan satu lagi masih hidup. Tapi langsung dikirim ke Bukittinggi," jelas Himron.

Usai mendapat laporan dari Mayor DI Pandjaitan, jenazah ke-11 orang tersebut kemudian dimakamkan hari itu juga sekitar pukul 18.00 WIB.

Dua hari berselang, datanglah rombongan dari Komandemen Sumatera terdiri dari Letkol Abdullah Kartawirana, Kolonel Mochamad Nuh, Kolonel Abunjani dan terakhir teknisi pesawat dari Auri Opsir Muda Udara M Yacoeb.

"Kepada pimpinan yang hadir tersebut, Danmen Hasan melaporkan penembakan pesawat terbang tersebut. Mendengar laporan itu, para tamu sangat terkesan dan bangga atas keberhasilan Danmen dalam memimpin anak buahnya di Riau waktu itu. Atas jasanya, Komandan Regu Sersan Abdul Manaf dinaikkan pangkatnya 2 tingkat menjadi Pembantu Letnan." tulis Himron.

Sumber: riauonline

Postingan terkait: