Arab Saudi: "Indonesia Harus Berhati-hati Terhadap Qatar !"...Apa Alasannya?


INDOSEJATICOM - Polemik hubungan Arab Saudi dan Qatar seakan terkatung-katung saat ini. 5 Juni yang lalu, Arab Saudi, diikuti dengan para sekutunya yakni Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Qatar.

'Perceraian' ini tentu menggemparkan dunia internasional. Pasalnya, Arab Saudi cs menuding Qatar mendukung gerakan terorisme di Timur Tengah. Tak hanya itu, kedekatan hubungan antara Qatar dan Iran juga menjadi salah satu penyebabnya.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi berkesempatan untuk menjelaskan soal krisis hubungan diplomatik ini kepada Metrotvnews.com, pada Kamis 10 Agustus 2017.

Dari sisi Arab Saudi, apa sebenarnya pokok permasalahan dari pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar?

Yang perlu diketahui adalah keluarga dari Pangeran Qatar itu berasal dari Arab Saudi. Namun, sekarang Qatar berubah menjadi negara yang tidak stabil. Jika kembali ke sejarah, Pangeran Qatar sekarang bisa menduduki kursi pemerintahan adalah hasil dari kudeta. Begitu juga dengan pangeran-pangeran sebelumnya.

Bisa dibayangkan, dengan keluarga saja berkhianat, apalagi dengan negara-negara tetangga? Dari sejarah ini bisa kita simpulkan.

Di Qatar sekarang ada tiga orang yang mengontrol penuh pemerintahan, yakni orangtua Pangeran yang sekarang, dan menteri luar negeri yang berasal dari keluarga pangeran. Akibat tiga orang ini, Pangeran Qatar tidak mempunyai kuasa penuh atas Qatar. Ini juga yang mempengaruhi krisis Qatar sekarang.

Isu yang merebak, pemutusan hubungan diplomatik dikarenakan Arab Saudi takut tersaingi oleh Qatar di bidang ekonomi, apakah itu benar?

Sangat tidak benar. Qatar penghasil gas, Arab Saudi penghasil minyak terbesar di dunia. Ekonomi kami sangat bagus dan stabil.

Bagaimana mungkin bisa dikatakan bersaing? Secara darat dan laut, Arab Saudi sangat strategis dan Qatar tidak bisa menyaingi itu. Penghasilan Arab Saudi juga besar.

Justru sebaliknya, pelaku-pelaku bisnis Arab Saudi terdampak negatif dari krisis ini. Kami tegaskan bukan karena faktor ekonomi.

Untuk dialog dengan Qatar, apakah akan digelar dalam waktu dekat? Mengingat Arab Saudi sudah memberikan 13 daftar tuntutan?

Biar saya jelaskan bahwa sejak 20 tahun yang lalu, Qatar telah melakukan upaya-upaya yang mengganggu keamanan di mana berujung pada krisis ini. Qatar pernah meminta maaf, namun pada 2013, Qatar melakukan tindakan-tindakan yang merugikan di aspek keamanan.

Melalui media Al Jazeera, Qatar mendukung tindakan terorisme, secara tidak langsung. Arab Saudi tentu menghormati apa yang dinamakan kebebasan pers, tapi tidak untuk mendukung terorisme.

Kemudian, Qatar juga ada di belakang percobaan pembunuhan Raja Abdullah di mana mereka berkoalisi dengan Khadafi (pemimpin Libya). Krisis ini sempat reda. Namun, Qatar kembali lagi mendukung upaya terorisme dan berafiliasi dengan ISIS, Al Qaeda dan Ikhwanul Muslimin.

Qatar juga memberikan paspor secara bebas, sehingga para militan bisa masuk ke mana pun, termasuk Arab Saudi. Setelah itu, persoalan ini bisa diatasi. Tetapi Qatar kembali lagi dengan mengacak-acak Bahrain. Ia mendukung kelompok Syiah di Bahrain serta di timur Arab Suadi.

Qatar juga menjadi dalang yang menewaskan sejumlah pasukan Uni Emirat Arab dan Bahrain di Yaman. Padahal, Qatar adalah anggota koalisi bersama mereka, tapi Qatar 'memijak dua tempat'. Selain itu, lewat media Al Jazeera, Qatar membuat saluran khusus Mesir yang memprovokasi rakyat Mesir agar anti-Presiden El Sisi. Padahal kita tahu bahwa Presiden Sisi terpilih lewat pemilu.

Keadaan ini tentu berdampak pada stabilitas Pemerintah Mesir. Tidak diperbolehkan seharusnya, sebuah negara mengintervensi urusan dalam negeri negara lain. Lalu, Qatar juga mendukung Ikhwanul Muslimin yang jelas-jelas ditetapkan sebagai kelompok terorisme.

Lalu, soal kedekatan Qatar dengan Iran juga menjadi alasan pemutusan hubungan diplomatik. Apakah menurut Arab Saudi, Qatar dan Iran memang sedekat itu?

Hubungan Qatar dan Iran sangat baik, ini menjadi salah satu faktor yang menimbulkan krisis. Qatar mendukung Syiah, sudah jelas. Mereka juga memberikan dukungan kepada Syiah di Bahrain, Yaman dan timur Arab Saudi.

Memang, kalau kita lihat, Qatar menjadi tangan kanan Iran, yang berdampak ke masalah keamanan. Dari KTT Arab-Amerika di Riyadh beberapa waktu lalu, Qatar juga tidak konsisten. Saat di Riyadh, seluruh negara Islam menyatakan Iran adalah pendukung terorisme.

Ketika KTT ini sudah usai, Pangeran Qatar berbicara di media yang menyatakan bahwa Iran adalah mitra yang penting, besar, kuat dan harus dihormati. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diucapkan saat KTT.

Sementara itu, secara harfiah, Ikhwanul Muslimin memang Islam. Namun, secara ideologi, gerakan ini campuran dari ISIS dan Syiah di mana mereka percaya sebuah masalah harus diselesaikan dengan kekerasan dan mengkafirkan pihak lain.

Ada bukti bahwa Qatar melakukan sebuah komunikasi selama 200 jam yang mengarah dengan adanya dukungan kepada terorisme. Kami juga punya daftar nama yang terlibat dan mereka saat ini masih ada di Qatar. Mereka juga pernah menggunakan lembaga kemanusiaan yang diselewengkan ke tindakan teror.

Mereka mengatakan krisis ini adalah blokade Qatar, namun kita mengatakan ini adalah tekanan kepada Qatar agar mereka memperbaiki sikap dan kebijakannya.

Tekanan yang kami berikan nyatanya memberikan hasil yang signifikan seperti Bahrain yang kini stabil secara politik, adanya keharmonisan antara Syiah dan Sunni di Bahrain.

Kami juga sudah bisa menekan Qatar di Yaman. Di Irak, hubungan Arab Saudi dan Irak sudah mulai baik dan kita bisa membantu pasukan pemerintah merebut tempat-tempat yang dikuasai ISIS. Libya juga sudah mulai stabil karena Qatar berada di belakang tindakan-tindakan teror di Libya. Qatar akhirnya membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat agar tidak mendukung kegiatan teror ini juga hasil dari tekanan Arab Saudi.

Berkaitan dengan itu semua, kami mengimbau pemerintah dan warga Indonesia untuk berhati-hati dengan Qatar.

Mereka bisa saja menggunakan metode dengan dalih investasi. Pasalnya mereka memiliki sejumlah investasi di Indonesia seperti di Matahari, Raffles, Bank QnB (bank nasional yang diakuisisi Qatar).

Sekarang mulai ada gerakan-gerakan afiliasi ISIS di Indonesia, bisa saja Qatar berada di baliknya. Pemerintah Indonesi harus waspada.

Menurut Anda, peran negara-negara seperti Amerika Serikat dan Indonesia apakah bisa menyelesaikan krisis ini?

Kami selalu menyambut baik apa semua solusi yang diberikan untuk menghadapi krisis Qatar ini.
Upaya yang dilakukan oleh Emir Kuwait juga kami sambut, termasuk dari Indonesia dan AS. Namun, jika Qatar masih mendukung terorisme, jangan harap kondisi bisa berubah seperti dulu lagi.

Yang pasti, kami meminta agar media Al Jazeera ditutup karena melalui media itu, mereka mendukung terorisme. Apalagi sekarang sedang musim haji. Bisa saja Qatar melakukan tindakan provokasi lewat media tersebut.


Sumber: Metronews

Postingan terkait: