Wah !! Senjata Pindad Dipakai Oleh ISIS Di Marawi


INDOSEJATICOM - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tidak mengetahui kalau senjata SS1-V1 ‎milik Pindad digunakan milisi ISIS di Marawi, Filipina.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan Kolonel Totok Sugiharto pun menegaskan, senjata-senjata buatan Pindad dimonitor oleh Kemenhan. Ia menegaskan tidak mungkin Pindad menjual senjata kepada milisi ISIS di Marawi, Filipina.

"‎Nggak ada. Kita gak mungkin jual itu sembarangan," kata Totok saat dihubungi redaksi.

Totok mengatakan, semua persenjataan dijual sesuai ketentuan Komite Kebijakan Industri Pertahanan serta diatur dalam Undang-Undang, salah satunya UU Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Selain itu, senjata-senjata tidak mungkin dijual ilegal karena penjualan senjata diawasi ketat.

Senjata tersebut merupakan salah satu senjata yang digunakan oleh perwira aktif. Apabila dijual ilegal, Kemenhan langsung menindak tegas. Namun, Totok tidak merinci kasus apa yang menjadi contoh penindakan tegas Kemenhan saat ditemukan penjualan senjata ilegal.

Totok tidak mengetahui perihal senjata-senjata yang beredar di Marawi dan belum memastikan bahwa senajata tersebut bukan lah pembelian ke Pindad. ‎Ia menduga senjata yang digunakan militan ISIS adalah senjata rampasan perang seperti gerakan pembebasan Timor-Timur atau perang Aceh. Senjata-senjata tersebut dibawa ke Marawi, Filipina untuk digunakan berperang bagi kombatan ISIS.

"Mungkin ada perang antara di Timtim, ada korban, kemungkinan direbut mereka‎, kemungkinan digunakan di sana," jelas Totok.

Namun, untuk memastikan lebih lanjut, Kemenhan akan memeriksa hal tersebut. Mereka akan berkoordinasi lebih lanjut setelah mendapat informasi tersebut.

Sebelumnya, ‎Letkol H. M. Cabunoc mengunggah foto senjata milik milisi ISIS sitaan anak buahnya pada Juni 2017. Dalam unggahan tersebut, sejumlah varian senjata ternyata digunakan para milisi ISIS seperti M-16, Karabin M4, dan CAR-15. ‎Dari foto tersebut, ada senjata mirip dengan senapan serbu 1 milik PT Pindad.

Berdasarkan penelusuran, senjata SS1-V1 yang digunakan oleh pemberontak Filipina diduga berawal dari insiden penangkapan kapal kargo Mv Captain Ufuk pada tahun 2009 di pelabuhan Batangas, Filipina. Kapal itu heboh lantaran berusaha mengirimkan  senjata SS1-V1 kaliber 5,56 lengkap dalam 20 boks kayu. 20 boks yang diduga berisi total 100 pucuk itu hanya mampu tersita sekitar 50 pucuk.


Sumber: Tirto.id

Postingan terkait: