Surat Soekarno untuk Jenderal Sudirman yang Menampar Pemimpin Sekarang


INDOSEJATI - Mata saya mendadak tak berkedip. Setelah memajukan kursi lebih dekat ke meja, saya terdiam membaca satu persatu kalimat itu. Tulisan tangan yang indah dalam huruf latin bersambung, untaian katanya biasa saja, tak panjang tapi sungguh siapapun yang membaca pasti akan menemukan sejuta rasa di sana. Untaian kata itu seperti hidup dan bertutur sendiri. Bahkan meski ditulis lewat setengah abad yang lalu, kalimat-kalimat itu seperti berbisik tentang Indonesia yang seharusnya, tentang pemimpin yang semestinya.

Fakta bahwa Ir. Soekarno dan Jenderal Sudirman adalah dua nama besar dalam sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia sepanjang masa tak terelakkan. Tapi boleh jadi tak banyak yang tahu tentang kedekatan keduanya bagaikan sahabat. Itulah yang terekam dalam beberapa salinan surat tulisan tangan Soekarno untuk sang Jenderal pada sebuah buku di Museum Tempat Lahir Jenderal Sudirman yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah.

Soekarno ternyata sangat sering berkirim surat pribadi kepada Jenderal Sudirman pada masa-masa awal kemerderkaan. Kedekatan keduanya terbaca dari aliran bahasa yang dituliskan Soekarno. Tak ada bahasa kaku layaknya seorang Presiden dalam surat kenegaraan. Yang ada justru percakapan sederhana, manis dan tulus.

Dalam suratnya Seokarno kerap menyapa Sudirman dengan “saudaraku”. Tapi dalam surat-surat lainnya beliau juga menyapa sang Jenderal dengan “Panglima Besar. Meskipun demikian satu kata yang tak pernah tertinggal dari surat-surat itu adalah pekik salam “Merdeka!”.

Kedekatan keduanya kental terasa pada salah satu surat Seokarno kepada sang Jenderal ketika menderita sakit. Perhatian besar dari seorang Presiden yang mengirimkan dokter untuk memeriksa Panglima Besar memang sudah selayaknya. Tapi surat tersebut berkata lebih dari itu. Mata saya nyaris berkaca-kaca membacanya. Berikut saya salinankan isinya.



Saudaraku,

Inilah profesor Asikin jang saja persilahkan datang dari Djakarta untuk memeriksa saudara. Beliau ta’dapat datang sebelum hari ini, berhubung dengan pekerdjaan beliau di Djakarta.

Saudara mengerti, bahwa saja amatlah mengingini saudara lekas sembuh. Apa sadja jang diperlukan, insjaAllah akan saja ichtiarkan untuk melekaskan sembuh saudara. Dan do’a saja kepada Tuhan pun senantiasa memohonkan sembuh saudara.

Harap saudara jakin tentang tentang hal itu.

Merdeka!

Saudaramu

Soekarno

Dua bapak bangsa yang bersahabat menjalin kata lewat surat. Bukan surat biasa karena surat –surat itu berkata tentang ke-Indonesia-an mereka yang luar biasa. Antara bangga, sedih dan haru ketika membaca sebuah surat Soekarno tertanggal 9/8/’49 yang fotonya saya tempatkan di atas. Apa yang membuat saya terharu sekaligus bangga tak perlu diuraikan.

Tapi saya dan semua orang Indonesia yang membaca isi surat itu pasti sepakat jika keduanya adalah pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan Indonesia, sosok yang berjuang dan mati untuk negeri tanpa peduli apa terjadi pada dirinya. Sosok besar yang tak membutuhkan tanda dan pakaian kebesaran sekalipun. Sang Jenderal yang bahkan tak sempat mengganti pakaiannya yang sudah rusak atau lusuh hingga sang Presiden datang sebagai sahabat memberikan sehelai kain baru untuk dipakainya.

Jika pakaian saja mereka tak mempedulikannya, bagaimana dengan pemimpin kita sekarang ini yang sangat bangga dengan jubah dan toga kehormatan juga rentengan medali pengakuan. Jika mereka dulu tak peduli berjuang dari atas tandu, bertaruh nyawa hijrah dari Ibu Kota ke daerah, bagaimana dengan pemimpin-pemimpin sekarang yang rela menyeberang benua demi lencana kehormatan sementara bangsa dan rakyatnya tertatih sendirian?.

Para pemimpin, anggota DPR, politikus dan para calon presiden yang hari ini berziarah ke makam pahlawan dan muncul berseliweran di TV mengucapkan Selamat Hari Pahlawan sembari menguntai kalimat-kalimat manis harusnya MALU.

Terima Kasih Pak Karno, Pak Dirman. Terima kasih semua pahlawan Indonesia.


Postingan terkait: